Minggu, 23 Agustus 2015

2. Tafsir-Manusia sbg Makhluk Individu dan Makhluk Sosial




MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL


MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Tafsir
Dosen pengampu M. Miftakhul Huda, M.Pdi.
 
Disusun Oleh:

MEGA LESTARI                 (931332414)
LIA INAYATUL M.            (931332514)


PRODI EKONOMI SYARI’AH
JURUSAN SYARI’AH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2015

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Tafsir yang berjudul “Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial” dengan tepat waktu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1.        Dosen matakuliah Tafsir, yang telah memberi ilmu serta pengarahan dalam pembuatan makalah ini.
2.        Bapak dan Ibu yang telah memberikan doa sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3.        Rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sebagai balasan atas amal baik dari semua pihak yang telah disebutkan di atas.
Sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, kami memohon maaf jika ada penulisan yang kurang berkenan di hati bapak dosen dan juga pembaca. Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

      Kediri, 21 Mei 2015


P           Penulis


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Bebicara tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artian tuntas. Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka dan mempunyai potensi yang agung.
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, bersama-sama dengan orang lain, hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk pribadi mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya, sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam berfungsi tehadap alam dan manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yakni perasaan, akal dan jasmani.
Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan manusia. Dimulai dari tafsir tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia, tafsir tentang penciptaan awal manusia, dan tafsir tentang hikmah diciptakannya manusia.

 

B.     Rumusan masalah

1.    Bagaimana tafsir ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial?
2.    Bagaimana tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia dalam Al-Qur’an?
3.    Bagaimana tafsir tentang penciptaan awal manusia dalam Al-Qur’an?
4.    Bagaimanakah tafsir tentang hikmah diciptakannya manusia?


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial

Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan dilakukan seorang manusia pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. Manusia selain disebut sebagai makhluk individu,  juga disebut sebagai makhluk sosial. Manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup seorang diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Adapun tafsir Al-Qur’an mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tertera dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71:
1.    Ayat Al-Qur’an
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ-٧١-
Artinya:
Dan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi para penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan melaksanakan shalat secara berkesinambungan, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana {71}.[1]



2.    Penjelasan Kata
a.    (وَالْمُؤْمِنُونَ) Wal Mukminuuna: Yang benar dalam keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya dan beriman pada adanya ancaman serta janji Allah.
b.    (أَوْلِيَاء بَعْضٍ)Auliyaa’u Ba’dh: Saling memberikan pertolongan, melindungi, mencintai dan memberikan dukungan.
c.    (وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ) Wa Yuqiimuuna ash-Shalaata: Menunaikan shalat dengan khusyu serta memenuhi syarat, rukun, sunah dan adab-adabnya.
d.   (وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ) Wa Yu’tuuna az-Zakaata: Mengeluarkan zakat harta benda mereka yang tidak bergerak, seperti emas, dirham dan mata uang yang lain atau dari harta yang bergerak berupa binatang ternak, seperti onta, sapi dan kambing.[2]
3.    Tafsir Ayat
Kaum Mukminin dan Mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (orang-orang) pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
a.    Wal mu’minūna (kaum Mukminin), yakni kaum lelaki yang membenarkan.
b.    Wal mu’minātu (dan Mukminat), yakni kaum perempuan yang membenarkan.
c.    Ba‘dluhum auliyā-u ba‘dl (sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain), yakni berada dalam satu agama, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
d.   Ya’murūna bil ma‘rūfi (mereka menyuruh [orang-orang] pada yang makruf), yakni kepada tauhid dan meneladani Nabi Muhammad saw.
e.    Wa yanhauna ‘anil mungkari (mencegah dari yang mungkar), yakni dari kekafiran, kemusyrikan, dan tak meneladani Nabi Muhammad saw.
f.     Wa yuqīmūnash shalāta (mendirikan shalat), yakni menyempurnakan shalat lima waktu.
g.    Wa yu’tūnaz zakāta (menunaikan zakat), yakni mengeluarkan zakat harta mereka.
h.    Wa yuthī’ūnallāha wa rasūlah (serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya), baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
i.      Ulā-ika sa yarhamuhumullāh (mereka itu akan dirahmati oleh Allah), yakni Allah tidak akan mengazab mereka.
j.      Innallāha ‘azīzun (sesungguhnya Allah Maha Perkasa) dalam kerajaan dan Kekuasaan-Nya.
k.    Hakīm (lagi Maha Bijaksana) dalam perintah dan ketetapan-Nya.[3]
Ayat ini menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela di antara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama. Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki mukmin karena hubungan seagama sesuai dengan fitrah kewanitaannya.
Akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah pasti akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki sesuai dengan amalan-amalan yang telah dikerjakannya.
Istri-istri rasulullah dan istri-istri para sahabat turut ke medan perang bersama-sama tentara Islam untuk menyediakan air minum dan menyiapkan makanan karena orang-orang mukmin itu sesama mereka terikat oleh tali keimanan yang membangkitkan rasa persaudaraan, kesatuan, saling mengasihi dan saling tolong-menolong. Kesemuanya itu didorong oleh semangat setia kawan yang menjadikan mereka sebagai satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan dalam menegakkan keadilan dan meninggikan kalimah Allah. Sifat mukmin yang seperti itu banyak dinyatakan oleh hadis-hadis Nabi Muhammad antara lain, seperti sabdanya:
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد اذا اشتكي منه عضو تداعي له سائر الجسد بالحمى والسهر (رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)
Artinya:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyantuni dan saling membantu seperti satu jasad, apabila salah satu anggota menderita, seluruh anggota jasad itu merasakan demam dan tidak tidur. (riwayat Al Buchori dan Muslim dari Nu’man bin Basyir).
Sifat-sifat yang dimiliki orang mukmin antara lain:
a.    Orang mukmin selalu mengajak berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar.
b.    Orang mukmin mengerjakan sholat dengan khusyu’ dengan hati yang ikhlas.
c.    Orang mukmin selain mengeluarkan zakat, tangan mereka selalu terbuka untuk menciptakan kesejahteraan umat dan memberikan sumbangan sosial.
d.   Orang mukmin selalu taat kepada Allah dengan cara meninggalkan perbuatan perbuatan maksiat dan mengerjakan segala perintah menurut kesanggupan mereka.[4]

B.     Tafsir tentang Produksi dan Reproduksi Manusia dalam Al-Qur’an

Produksi berasal dari kata dasar produk yang punya arti buatan atau hasil, sedangkan produksi sendiri punya arti pembuatan atau menghasilkan. Kalau ditambahi didepannya “re” maka berarti pembuatan kembali sesuatu yang sudah ada atau dalam kata yang sederhana disebut perkembangbiakan.
Dengan demikian produksi adalah pembuatan pertama kali sedangkan reproduksi merupakan pembuatan yang kedua atau di atasnya (3,4,5,…). Tapi reproduksi dalam pembahasan ini yang dimaksudkan bukanlah penciptaan manusia yang kedua yaitu Hawa juga bukan penciptaan manusia pertama yaitu Adam as dan juga bukan penciptaan manusia yang tidak ilmiah atau tidak sesuai dengan sunatullah, seperti Nabi Isa as. Yang dimaksud dengan istilah reproduksi manusia di sini adalah proses penciptaan kembali manusia yang berlangsung di dalam kandungan ibu dan dengan proses yang ilmiah.
Dengan kata lain reproduksi manusia adalah proses perkembangbiakan manusia dalam upaya untuk mempertahankan populasinya. Berikut ayat yang menjelaskan mengenai produksi dan reproduksi manusia yang tercantum dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14:
1.    Ayat Al-Qur’an
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ -١٢-ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ -١٣-ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ -١٤-
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah{12}. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) {13}.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami  jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik{14}.[5]
2.    Penjelasan Kata
a.    (مِن سُلَالَةٍ) Min Sulaalatin: Sulaalah adalah apa yang tercabut dari sesuatu. Maksud ungkapan itu disini adalah apa yang diambil dari tanah untuk menciptakan Adam.
b.    (نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ) Nuthfatan Fii Qaraarin Makiin: Nuthfah adalah tetesan air mani yang sudah terpilih dari sperma. Qaraarin Makiin adalah tempat yang kokoh, maksudnya rahim yang terjaga.
c.    (عَلَقَةً) ‘Alaqatan: Darah membeku yang menempel pada jari tangan, apabila seseorang mencoba mengangkatnya dengan jari itu, maka bentuknya seperti kuning telur.
d.   (مُضْغَةً) Mudhghatan: Potongan daging, seukuran daging yang biasa kita kunyah.
e.    (خَلْقاً آخَرَ) Khalqan Aakhar: Ciptaan yang lain, yang bukan seperti potongan daging tadi karena telah ditiupkannya ruh, maka itu menjadi manusia.
f.     (أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ) Ahsanu Al-Khaalqiin: Sebaik-baik yang menciptakan. Maka Allah Ta’ala adalah yang menciptakan sedangkan manusia adalah yang diciptakan, dan Allah adalah sebaik-baik Pencipta.[6]
3.    Tafsir Ayat
Allah SWT menciptakan keturunan Adam dari sari pati air, yaitu air mani. Keturunan manusia diciptakan dari air mani yang berada di tulang rusuk lelaki kemudian dipancarkan dan disimpan dalam tempat yang kukuh yaitu di rahim wanita, tempat yang kukuh, kuat dan terjaga mulai dari permulaan hamil hingga akhir persalinan.
Selanjutnya Allah SWT mengubah nutfah yang merupakan campuran antara air mani lelaki dan perempuan menjadi alaqah, yaitu gumpalan darah, kemudian Allah SWT merubahnya menjadi gumpalan daging seukuran daging yang dikunyah tanpa bentuk dan rancangan.
Perubahan bentuk disebut penciptaan karena Allah SWT menghilangkan sebagian ciri dan menciptakan ciri lain. Dari gumpalan daging selanjutnya Allah SWT merubahnya menjadi tulang berbentuk yang memiliki potongan dan bagian-bagian, mulai dari kepala, kedua tangan dan kaki, termasuk tulang, syaraf dan urat. Selanjutnya Allah SWT menutupi tulang yang tercipta dengan daging yang menutupi dan memperkuat. Allah SWT menjadikan daging laksana baju bagi tulang. Selanjutnya Allah SWT menciptakan wujud lain yang berbeda dengan wujud sebelumnya dengan meniupkan ruh ke janin, janin kemudian bergerak dan menjadi bentuk berbeda yang memiliki pendengaran, pengelihatan, pemahaman, perasaan dan gerakan.
Maha suci Allah SWT pencipta terbaik. Artinya, Maha Luhur dalam kuasa dan hikmah-Nya, Maha Tinggi dan Maha Suci Allah, penentu dan pembentuk terbaik.
Kata tabaaraka berasal dari baaraka, seolah-olah berada pada tingkatan ta’aala (Maha Luhur) dan taqaddasa (Maha Suci), dan berasal dari makna berkah. Diriwayatkan, saat Umar bin Khaththab mendengar permulaan ayat hingga firman, “Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain,” Umar berkata seperti yang diriwayatkan oleh Thayalisi dan lainnya dari Anas, “Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Seperti itulah yang diturunkan.” Artinya, pencipta terbaik, tidak ada pencipta selain Allah SWT. Ciptaan dan buatan Allah SWT adalah ciptaan terbaik, ciptaan Allah SWT adalah baik dan terbaik. Ini tidak bermaksud membandingkan Allah SWT dengan yang lain, tapi hanya sebagai petunjuk atas kesempurnaan ciptaan-Nya.[7]

C.   Tafsir tentang Penciptaan Awal Manusia dalam Al-Qur’an

1.    Ayat Al-Qur’an surat As-Sajadah: 7-9
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ -٧- ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاء مَّهِينٍ -٨- ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ -٩-
Artinya:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah {7}. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani){8}. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur {9}.[8]
2.    Penjelasan Kata
a.         (وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ) Wa Bada’a Khalqal Insaana min Thiin: Yakni memulai penciptaan Adam as dari tanah liat.
b.         (مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاء مَّهِينٍ) Min Sulaalatin mim Maa’in Mahiin: Yakni menciptakan keturunan Adam dari segumpal darah yang berasal dari air mani.
c.         (ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ) Tsumma Sawwaahu wa Nufikha fiihi mir Ruuhih: Yaitu mengadakan janin di dalam perut ibunya, dan ditiupkan ke dalamnya ruh, maka ia menjadi hidup. Sebagaimana juga dahulu Dia menciptakan Adam dan ditiupkan ke dalam tubuh Adam ruh-Nya sehingga dia menjadi hidup.
d.        (وَالْأَفْئِدَةَ) Wal ‘af’idah: Hati.
e.         (قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ) Qaliilan maa Tasykuruun: Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat diciptakannya mereka kecuali hanya sedikit saja.[9]
3.    Tafsir Ayat
Allah SWT yang mengatur segala urusan dan Maha Pencipta itu serta yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Dialah yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaannya dan Dia telah memulai penciptaan manusia yakni Adam asdari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sedikit sari pati air mani yang diremehkan bila dilihat kadarnya atau menjijikkan bila dipandang, atau lemah, tidak berdaya karena sedikitnya.
Kemudian yang lebih hebat dari itu Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuh-nya ruh (ciptaan)-Nya dan setelah kelahirannya di muka bumi Dia menjadikan bagi kamu wahai manusia pendengaran agar kamu dapat mendengar kebenaran dan penglihatan agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan hati agar kamu dapat berfikir, dan beriman, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur dan banyak di antara kamu yang kufur. Yakni kamu tidak memfungsikan anugerah-anugerah itu sebagaimana yang Allah kehendaki, tetapi memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
a.    Kata (أحسن)ahsana berarti membuat sesuatu menjadi baik. Kebaikannya diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Allah SWT telah menciptakan semua ciptaannya dalam keadaan yang baik, yakni diciptakan-Nya secara sempurnya agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
b.    Kata (سلالة) sulalah terambil dari kata (سل)sala yang antara lain berarti mengambil, mencabut. Kata ini mengandung makna sedikit, sehingga kata sulalah berarti mengambil sedikit atau sari pati air mani yang memancar itu.
c.    Kata (مهين)mahin jika disandangkan kepada orang, berarti lemah. Kata itu juga dapat berarti sedikit. Dengan demikian, min ma’in mahin berarti ‘air yang sedikit dan lemah’. Selain itu, kata mahana juga terbentuk dari huruf-huruf yang sama dari kata “mahin” juga berarti “memerah susu” sehingga dapat dipahami pendapat sementara ulama yang memahaminya dalam air air yang memancar atau air yang sedikit, karena susu yang keluar dari perahan biasanya memancar dan sedikit.
d.   Kata (سواه)sawwahu/menyempurnakannya mengisaratkan proses lebih lanjut dari kejadian manusia setelah terbentuk organ-organnya. Ini serupa dengan ahsan taqwin. Dalam QS Al-Infithar: 7 disebut tiga proses pokok penciptaan. Tahap pertama mengisyaratkan pembentukan organ-organ tubuh secara umum, tahap kedua adalah tahap penghalusan dan penyempurnaan organ-organ itu, dan tahap ketiga adalah tahapan peniupan ruh Ilahi, yang menjadikan manusia memiliki potensi untuk tampil seimbang, memiliki kecenderungan kepada keadilan.
e.    Kata (من روحه)min ruhihi secara harfiah berarti dari ruh-Nya yakni ruh Allah. Ini bukan berarti ada “bagian” Ilahi yang dianugerahkan kepada manusia. Karena Allah tidak terbagi, tidak juga terdiri dari unsur-unsur. Dia adalah shamad tidak terbagi dan tidak terbilang. Yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya. Penisbahan ruh itu kepada Allah adalah penisbahan pemuliaan dan penghormatan. Ayat ini bagaikan berkata: Dia meniupkan ke dalamnya ruh yang mulia dan terhormat dari (ciptaan)-Nya.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memulai penciptaan manusia dari tanah. Menurut Sayyid Quthub, ini dapat juga dipahami dalam arti tanah adalah permulaan atau tahapannya yang pertama. Ayat ini tidak menjelaskan berapa tahap yang dilalui manusia sesudah tahap tanah itu, tidak juga dijelaskan berapa jauh dan berapa lamanya.
Karena terbuat dari tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam, sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya. Ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan lain-lain. Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu, walau ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan agar dapat menghiasi manusia.
Dengan ruh, manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi. Dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dll.
Demikian manusia yang diciptakan Allah disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya.[10]

D.    Tafsir tentang Hikmah Diciptakannya Manusia

1.    Ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ -٣٠-
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka  bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” {30}.[11]
2.    Penjelasan Kata
a.    (الْمَلاَئِكَةُ)Al-Malaaikatu: Kata ‘Malaikah’ adalah bentuk jama’ dari kata “Malaa-ik”, dan diperingan bacaannya menjadi “Malak”. Mereka adalah makhluk alam ghaib, sebagaimana diinformasikan oleh Nabi saw bahwa mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala dari cahaya.
b.    (خَلِيفَةً)Khaliifah: Orang yang datang menggantikan orang lain. Tetapi yang dimaksud disini adalah Nabi Adam as.
c.    (يُفْسِدُ فِيهَا)Yufsidu Fiihaa: Berbuat kerusakan di bumi, yaitu dengan berbuat kufur dan maksiat.
d.   (يَسْفِكُ)Yasfiku: Yakni menumpahkan darah dengan membunuh dan melukai (orang lain).
e.    (نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ)Nusabbihu Bihamdika: Kami mengucapkan (سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ)“Maha Suci Allah Ta’ala dan dengan memuji kepada-Nya.” Arti Tasbih adalah menyucikan Allah Ta’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.
f.     (وَنُقَدِّسُ لَكَ)Wa Nuqaddisu Laka: Dan kami menyucikan Engkau dari apa-apa yang tidak layak bagi-Mu. Arti  Taqdiis adalah menyucikan dan menjauhkan-Nya dari sesuatu yang tidak patut bagi-Nya. Huruf laam pada لَكَ adalah tambahan yang berfungsi untuk menguatkan makna, karena fi’il (kata kerja) قَدَّسَ bisa berpengaruh pada obyeknya (muta’addi) secara langsung (tanpa perantara huruf). Jadi bisa dikatakan, قَدَّسَهُ(menyucikan-Nya).[12]
3.    Tafsir Ayat
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat”, ingatlah wahai Muhammad ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, dan kisahkanlah kepada kaummu tentang hal itu,  “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah  di muka  bumi.” Mengadakan dan menciptakan di bumi khalifah untuk melaksanakan segenap hukum-Ku, yaitu Adam atau suatu kaum sebagian menjadi khalifah atas sebagian lainnya, dalam kurun demi kurun, masa demi masa, dan generasi demi generasi.
“Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan  membuat kerusakan padanya,” mereka berkata dengan heran: “Bagaimana Engkau menjadikan mereka khalifah, padahal di antara mereka ada yang membuat kerusakan di bumi dengan maksiat, “dan menumpahkan darah”, mengalirkan darah dengan kekejian dan perseteruan. “Padahal  kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau”, kami senantiasa menyucikan Engkau seraya memuji-Mu. “Dan mensucikan Engkau”, kami mengagungkan perintah-Mu dan mensucikan nama-Mu dari tuduhan orang-orang kafir yang dialamatkan kepada-Mu.
“Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Maksudnya, Aku tahu kemaslahatan-kemaslahatan yang menurut kalian itu tersembunyi, bagiku hikmah penciptaan makhluk tidak diketahui oleh Malaikat.
4.    Pelajaran
a.    Sebagian ulama berkata bahwa pada pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang penciptaan Adam dan pengangkatannya sebagai khalifah di bumi, terdapat pendidikan untuk segenap hamba-Nya bagaimana bermusyawarah dalam berbagai masalah sebelum melaksanakannya.
b.    Hikmah dijadikannya Adam sebagai khalifah di bumi adalah menjadi rahmat bagi seluruh hamba-Nya, bukan untuk merendahkan Allah, sebab manusia tidak akan mampu menyampaikan perintah dan larangan dari Allah tanpa ada perantara, tidak juga dengan perantara malaikat. Oleh karena itu, di antara rahmat, anugerah, dan kebaikan Allah adalah diutusnya para rasul dari golongan manusia.
c.    Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan bahwa perkataan malaikat, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan  membuat kerusakan padanya,” bukanlah untuk membantah Allah, atau juga karena iri kepada Adam, namun lebih kepada pertanyaan pemberitahuan dan eksplorasi hikmah tentang hal itu. Mereka seakan-akan berkata, “Apa hikmah diciptakannya manusia, padahal sebagian mereka membuat kerusakan di muka bumi? Ibnu Jazzi berkata, “Malaikat tahu bahwa anak cucu Adam membuat kerusakan di bumi, lalu diberitakan kepada Allah mengenai keadaan mereka. Dikatakan, dulu di bumi ada jin yang membuat kerusakan, kemudian Allah mengutus malaikat, lalu malaikat membunuh mereka, kemudian malaikat menimbang manusia dengan golongan jin itu.[13]

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan

1.    Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan dilakukan seorang manusia pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. Manusia selain disebut sebagai makhluk individu,  juga disebut sebagai makhluk sosial. Adapun tafsir tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial terdapat dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71.
2.    Reproduksi manusia adalah proses perkembangbiakan manusia dalam upaya untuk mempertahankan populasinya.Adapun tafsir tentang produksi dan reproduksi manusia terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminun ayat 12-14.
3.    Allah SWT menciptakan Nabi Adam as dari tanah. Adam merupakan  permulaan adanya manusia di muka bumi. Ia diciptakan tanpa adanya ayah dan juga ibu. Tafsir tentang penciptaan awal manusia terdapat dalam Al-Qur’an surat As-Sajadah ayat 7-9.
4.    Setiap sesuatu yang berasal dari Allah SWT selalu memiliki hikmah yang tersembunyi. Sama halnya dengan penciptaan manusia yang juga memiliki hikmah tersendiri. Manusia diciptakan Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi. Adapun tafsir tentang hikmah diciptakannya manusia terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30.

A.  Saran
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu memperbaiki hubungan dengan sesama saudara seiman adalah sangat penting. Persaudaraan sesama muslim dan tolong-menolong adalah hal yang dapat memperkuat ikatan tali iman. Menunaikan zakat, mendirikan sholat. Juga tidak hanya kita sesama muslim, bahkan kepada orang lain yang tidak seiman dengan kita, juga harus saling membantu dalam urusan perdagangan ataupun hal lain yang tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA


Abbas, Ibnu. Al-Kalam Digital Versi 0.1. Bandung: Diponegoro, 2009.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 1). Terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 3). Terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5). Terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012.
Ash-Shabuni, Syaikh Muhammad Ali. Shafwatut Tafasir. Terj. Yasin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011.
Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Al-Wasith. Jakarta: Gema Insani, 2013.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani, 1999.
Naim, Mochtar. Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Biologi dan Kedokteran. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Shihab, M. Quraish. Al-Qur’an dan Maknanya. Tangerang: Lentera Hati, 2013.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.



[1] M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 198.
[2] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 3), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 418.
[3] Ibnu Abbas, Al-Kalam Digital Versi 0.1 (Bandung: Diponegoro, 2009), 198.
[4]Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani, 1999), 631-632.
[5] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Biologi dan Kedokteran (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 105.
[6]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 34.
[7] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith (Jakarta: Gema Insani, 2013), 663-664.
[8] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an., 134.
[9]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 5), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 748.
[10]Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 183-186.
[11] Mochtar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an., 6-7.
[12]Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar (Jilid 1), terj. Fityan Amaliy dan Edi Suwanto (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2012), 81-82.
[13]Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, terj. Yasin(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), 64-67.


0 komentar:

Posting Komentar